Jumat, 29 Januari 2010

Rindu untuk Abi (2)

puntung puntung rokok berserakan di lantai kamar
pintu lemari berdecit tertiup angin
sore yang dingin..
sudah dua hari sejak aku terkapar
sudah dua hari pula tak seorangpun yang menanyakan kabar...

hhmm..perlahan kelopak mataku terbuka
terhuyung huyung menuju meja dapur
ada apa denganku?
akumenegak air dari kendi, basahai kerongkongan yang dua hari tak dialiri air

lalu rebah lagi di atas dipan...
secarik kertas terselip di bawah pintu menarik perhatiannya

mata kuyuku terpicing, 'tulisan siapa ini, jelek sekali'...
ditulis dengan tergesa gesa mungkin, pikirnya

aku menyandar di tepi dipan,ingin membaca lebih jelas
'ndul...aku dapat tugas ke penang, maaf ga ngasih kabar dulu, aku ga mau kamu cemas..sampai bertemu desember 2011

a
bi.

aku melongo...tak ada no hp, alamat?cuma catatan jorok begini?
(bersambung)

Rindu untuk Abi (1)

Teras yang basah oleh hujan sore ini mendadak membuatku resah
sudah 2 hari tak ada kabar dari abi...
sungkan jg untuk bertanya..biasanya abi muncul di depan kamarku hampir setiap hari, menjelang petang..seperti ayam pulang kandang saja...pikirku
ah..kemana dia ya..aku rindu senyum nya.."Nduull lagi ngapain, begitu dia biasa menyapaku

Abi,..jgn menggoda terus , aku sedang banyak pikiran, ujarku saat 2 terahir bertemu
apa apa sih von, tumben kamu murung .."aku mau pulang kampung Bi, jawabku...loh,knp..wajahnya berkerut..'aku disuruh ibu pulang, mau dijodohkan'..lalu sesaat suasana hening..abi mendesah sambil menyandar di dinding...kapan? entahlah Bi, ahir tahun ini jika aku belum bisa mboyong calon suami, aku terpaksa nurut anjuran ibu untuk di jodohkan.
'Oh iya, gimana tadi kantor? dapet klien baru? ujarku mengalihkan pembicaraan.

Aku tau Abi bukan pacarku..aku tak mau menyeretnya lebih dalam.Biasa..begitu aja..."kenapa ga bliang Ibu kamu disni sudah punya kerjaan,teman... kamu punya kehidupan disini Von!
aku menunduk sambil memainkan ujung rambut..tapi aku tidak punya calon suami Bi, atau setidaknya pacar..ibu nanyain terus..aku harus jawab apa.. Ibuku ngerti apa ttg teman, hobi,kerjaan,ketenangan alam yg indah disini.Aku tidak punya pilihan.
ini sudah 2 hari, sejak percakapan kami yg terahir ..abi tak lagi muncul di kostan ku..menghilang seperti hantu...ada apa Bi.......

(bersambung)

Selasa, 26 Januari 2010

selembar nyawa, diatas kereta malam..

menuju pulang kedalam kelam,
matanya kosong sekosong gairah yang ditawarkan wanita wanita peghibur diatas gerbong...
tangannya menggenggam selembar foto gadis kecil berambut merah, mungkin pada sosok di foto itu ia akan pulang? atau justru ia sedang berlari dari gadis kecil dalam foto itu?

selembar nyawa diatas kereta malam, hampir tak bertenaga, makanya ia kusebut hanya selembar nyawa...wajah pucat seakan tak berdarah, lemah tersandar dibangku kereta. Siapa yang mengerti dirinya? kereta sibuk melaju menerobos gulita malam, penjaja rokok sibuk bertahan diantara goncangan goncangan kereta sambil membawa asongannya. Ibu ibu pegangi anaknya yg tidur dipangkuan.

Siapa yang mengerti diriku, pikirnya? jika aku mati diatas kereta ini,paling paling aku besok jadi berita murahan di tabloid murahan : seorang pria menegak racun dalam perjalanan di atas kereta malam, tidak ditemukan tanda tanda kekerasan ditubuhnya, Pria ini disinyalir bunuh diri.
titik. habis.

tak ada yang tau kemana tujuan pria itu. tak ada yang mengajaknya bicara. begitu juga aku.
aku sibuk dengan pikiran pikiranku menerka ada apa dengannya.
kami sama sama melaju...entah menuju pada apa...



(catatan di banjarnegara, 2008)

Rabu, 20 Januari 2010

Menyamak Bingkai untuk Kekasihku....

hati hamba, paduka...
dari bintang memukau
sampai muram tebing
terkatung.

dimana padamu, harus kutancapkan
hati yang terbelah diantara benua benua tua yang polos
jika disebrang lautan setetes bening mu tersisa?

kutitip sebongkah dicelah karang
mungkin purnama saat februari rekah

kudapati kau bersimpuh di mimbar
sebelum cinta berpulang

RENI (cerpen)




Reni, anakku semata wayang, bermata bulat dengan wajah sayu. Parasnya juga lembut dan ayu. Reni..sudah kutinggal sejak usia 5 tahun, aku bercerai dari bapaknya dan sekarang Ia diasuh oleh ibu tirinya sedangkan aku merantau ke Kalimantan.

Setelah remaja ia kerap menelponku minta uang jajan, beli, bedak beli baju, kuiyakan saja permintaanya, meskipun hasil jualan dari warung nasiku tak seberapa, tapi aku kasihan dengan anak itu,aku ingin membuatnya bahagia, seperti anak anak remaja lainnya.

Hari ini Reni genap berusia 16tahun, "Bu, belikan aku sepatu ya" celotehnya ditelepon. Aku heran, baru kali ini ia minta sepatu, sebenarnya aku ingin menanyakan, apa ia ingin melanjutkan ke jenjang kuliah atau ingin langsung bekerja, tapi tampaknya ia lebih tertarik membicarakan sepatu, gaun model terbaru dan malah ingin mengecat rambut jadi merah, katanya.

Dua bulan setelah anakku lulus sma, aku memutuskan pulang ke Lampung. Dengan mengumpulkan uang hasil berjualan nasi di pasar, aku ingin bertemu langsung dengan Reni dan mungkin juga dengan bapaknya, membicarakan masalah studi Reni, aku ingin ia jadi sarjana.

Reni ga tinggal dirumah ini lagi! Minggat!. Aku tercekat, seorang wanita berpakaian mini, menyongsongku dengan sinis di depan rumah begitu aku menanyakan soal anakku. Kamu ibunya Reni kan? Wanita itu menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku tertegun, mungkin ini ibu tirinya Reni, pikirku. Dengar ya, anakmu itu sudah sebulan ga pulang pulang, aku pusing mengurusnya!, anak penjual nasi tapi tak tau diri, pulang sekolah kerjanya kelayapan di tempat karaoke...

Reni..reni...anakku semata wayang,aku dengar dari tetangga tetangga kalau anakku sekarang tinggal di kompleks pelacuran. Mungkin ia tak ingin seperti ibunya, miskin dan hidup sendiri, Aku tak pernah mencari anakku, biarlah bagiku ia tetap menjadi gadis kecil yang lucu, sejak usia 5tahun, sejak kutinggal aku tak pernah melihatnya lagi...
__________________

Senin, 18 Januari 2010

ada cinta untuk lia (cerpen)



lia, begitulah orang orang disini biasa memanggilku, rambut sebahu warna coklat muda, menurutku wajahku biasa saja. Aku bekerja di kota, ehm..bukan sebagai gadis penghibur, tapi sebagai pengantar bunga, Tiap aku bertugas merangkai bunga untuk di jual ke restoran dan cafe cafe kecil.

Ibuku tinggal di Solo, bersama bude dan keponakanku. Kata ibu aku punya bapak, tapi entah siapa, karena dulu ibu tidak punya pacar.setidaknya aku masih lebih baik dari ibu sewaktu masih muda, aku punya pacar, jadi kalau nanti hamil, aku tau siapa bapak dari jabang bayiku..ah lupakan saja...pacarku Dani, juga jarang menemuiku, tapi setidaknya dia bilang aku ini pacarnya.

"lia, tolong antar bunga ini ke Harris" aku tersentak dari lamunan 'oh, baik pak' aku segera meluncur dengan sepeda miniku menuju ke sebuah resort di pinggiran pantai. Pak Harris, pemilik resort ini, orangnya masih muda, ganteng,aku tak pernah lihat ia bersama wanita atau anak anak, mungkin dia masih bujangan.
'kamu telat lagi, mmhh...cape ya pakai sepeda?' pak harris menyapa sembari menerima buket buket bunga dari tanganku. 'Iya, pak tapi saya ga bisa naik motor, takut jatuh'. Kamu jangan langsung pergi ya, bantu saya pajang bunga bunga ini di kamar atas. Aku menurut saja.

Kira Kira satu jam kemudian, tugasku sudah selesai,aku bergegas kembali ke sepeda miniku yang sedari tadi terpanggang sinar matahari. "lia, tunggu dulu" .Aku menoleh ke arah suara itu, eh pak harris memanggil dari kejauhan. "ya pak?" Kamu ga buru buru kembali ke toko kan? gimana kalo sore ini kita jalan jalan ke Pecatu? sekalian saya ajari kamu naik motor.." ujar pak harris sembari terseyum maniiis sekali. Tumben, kataku dalam hati, tapi siapa sih yang bisa menolak ajakan cowo ganteng ini. aku menyanggupi ajakannya.

Sore itu, kami dengan sepeda motor, menuju pecatu, sebuah daerah di bali yang masih asri, dan dikelilingi candi candi. Ia dengan lembut mengajariku mengendarai motor, dengan sesekali melempar senyum manisnya.
esok harinya aku di jemput Pak harris di toko, usai jam kerja,lalu kami kembali ke pecatu.

Ini sudah hari ke 5, kami bertemu di luar jam kerja, selepas mengantarku pulang, Pak harris meraih tanganku dan berkata : Lia, Malam minggu nanti aku jemput kamu jam 7 malam ya, kali ini aku mau ajak kamu makan malam' Ah? aku hanya menelan ludah. Dandan yang cantik ya. "cup" ia mendaratkan sebuah kecupan di keningku.

"kemana saja! baru kelihatan! "Dani? aku kaget oleh kemunculan dani tiba tiba di depan jendela kamar.Ngapain kamu disini? Aku membuka jendela kamar dengan kesal. "kamu kemana saja? aku jemput di toko pulang kerja, kamu udah ga ada!" Aku menginap di rumah teman! jawabku sekenanya. Lia aku mau bicara, tolong keluar".

Dani mengutarakan niatnya untuk ikut kapal pesiar selama 2 tahun. Ia memintaku untuk menunggunya selama ia pergi. Maaf, sayang, aku ga bisa! itu terlalu lama, Ibu sdh menyuruh kita segera menikah!" Sekali lagi maaf!. Aku meninggalkan dani termangu dan lemas di bangku teras...

Malam itu aku tak sanggup memejamkan mata, aku merasa iba pada Dani, bagaimanapun dia masih pacarku, walaupun cuek, dia pemuda yang tegas, bekerja keras dan...aku tau dia sayang padaku.Tapi..bagaimana dengan pak Harris? apa aku harus jujur padanya bahwa aku juga menyukainya?

Hari sabtu pagi...aku minta izin dengan pemilik toko untuk pulang sebelum tengah hari, aku tak sabar ingin bertemu pak harris. Aku mengayuh sepeda miniku cepat cepat, setelah tiba di depan hotel langsung aku campakkan sepedaku begitu saja. Aku menaikki tangga lobi dan menuju kamar kerja pak harris..Pak..pak...saya mau bicara.Karena tak ada jawaban aku langsung membuka pintu yang tak terkunci. AAAAAWHHH!!!..apa yang ada di depan mataku benar benar sontak berteriak. HeY! sedang apa kamu disini!!

Dengan airmata bercucuran aku berlari menuruni tangga, aku tidak peduli dengan tatap aneh orang orang..aku ingin membuang ingatanku tentang kejadian yang baru aku lihat...Ya, aku melihat Pak Harris sedang disodomi laki laki lain...diatas ranjang merah dalam kamar penuh buket buket bunga yang biasa aku kirim.

Aku terduduk lemas di teras kamarku...airmata dan keringat bercucuran..aku benar benar tidak menyangka bahwa pak harris adalah seorang gay.. AHhhh..danii daniii..kamu dimana!!.. aku menyesal telah mengkhianatinya. Dengan langkah gontai dan masih terisak isak aku menuju ke kamarku, aku ingin tertidur dan berharap semua ini mimpi belaka.

"Neng, tadi mas dani kesini, nitip surat buat Eneng" tiba tiba pundakku ditepuk oleh ibu kost, Surat? dani? mana bu..aku langsung menyambar surat itu dan berlari ke kamar. "Neng...kok nangis..ada apa? Aku tak pedulian suara ibu kost yang sedikit khawatir..aku duduk di kasur dan merobek amplop surat.

Lia, sayang..aku tau kamu bertemu dengan pak harris seminggu ini, sayang..aku ngerti, kamu mungkin kesepian karena aku tinggal kerja, aku tunggu kamu tiap malam. Aku juga ngerti, kamu pasti lelah naik kerja mengantar bunga tiap hati dengan sepeda. itulah kenapa aku putuskan untuk kerja di kapal pesiar, gajinya lumayan sayang. Setelah 18 bulan, aku akan pulang, bawa uang banyak buat kita, biar kita bisa nikah, dan undang ibu ke bali. Tentu aja kamu ga perlu cape cape naik sepeda lagi..aku ingin belikan kamu motor dan mungkin ada sisa modal untuk kita bikin toko bungan sendiri. Aku sayang kamu Lia, tunggu aku ya sayang.

PS : aku tau dari teman teman kalau Pak harris itu gay, dia mungkin hanya ingin memperalat kamu. Lebih baik kamu hati hati, selama aku pergi tolong jaga diri ya.

Dani.

Jejak di HaRRis

untuk sejenak tergeletak,
ah..rasanya berabad sejak pertama kutatap
ada lebam lebam meng-ungu di dadamu

sedikit lelah, tapi masih tercium parfum
rindu yang tak asing
dikamar ini...

aku menengadah...hujan...
lalu kau berlari lari kecil, minta dihanduki

aku tak tau sampai kapan fatamorgana mu merambati kepalaku

dps 15jan09

Jumat, 01 Januari 2010

Kenangan

kita menapak mula di taman ini
berendam dalam angan...
lalu bunga kenangan mekar,
dalam tujuh selaksa rupa...

senyummu menjadi pelangi
ku selami bias bias ungu.
ah...bagaimana aku bisa lupa?

adalah malam...ibu kita
darinya tak pernah putus cerita
tentang putri kembang,
yang jatuh hati pada paduka berjubah merah...

dan kita menyelami angan...
lagi lagi angan...
di awang awang
hanya angan...